Festival Kayan Ufah 2025: Merawat Tradisi, Menguatkan Persatuan

by
5 November 2025
42 views

KONGBENG – Festival Budaya Kayan Ufah 2025 diharapkan menjadi wadah yang efektif untuk memperkuat rasa kebersamaan dan persatuan di kalangan masyarakat Kayan. Lebih dari itu, festival ini juga bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Kayan kepada publik yang lebih luas, sekaligus menjadi magnet wisata budaya yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kutim. Dengan demikian, Festival Ufah tidak hanya merupakan perayaan budaya, tetapi juga upaya konkret untuk mengembangkan potensi daerah.

Pesona berbagai warisan budaya leluhur masyarakat Kayan mewarnai Festival Budaya Kayan Ufah 2025 yang diselenggarakan di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng. Kehadiran masyarakat adat, tokoh budaya, dan wisatawan yang antusias menunjukkan betapa pentingnya perhelatan ini bagi pelestarian budaya. Festival ini seakan merekatkan rasa kebersamaan dan persatuan masyarakat, juga menjadi ruang memperkenalkan budaya Kayan kepada publik yang lebih luas.

Festival secara khusus menampilkan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan. Setiap tarian yang ditampilkan memiliki keterkaitan satu sama lain, menceritakan kisah dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat adat.

Tarian-tarian tersebut meliputi Tarian Hudoq Aruq atau Bateang Bu-eang, suatu ungkapan syukur atas kelimpahan hasil panen; Tarian Hudoq Kitaq yang melambangkan Dewi Padi sebagai sumber kehidupan; serta Tarian Hifan Sau dan Hifan Seang, tarian pria dan wanita yang merayakan kemenangan dalam upacara adat.

Selain itu, ada pula Tarian Jat Alat yang ditampilkan pascapanen sebagai simbol dimulainya kehidupan baru; Tarian Hudoq Kap/Kusap Nga-eang, tarian sakral yang dibawakan dengan topeng kulit kayu; dan Tarian Hudoq Kuhau, tarian untuk mengusir hama dan penyakit tanaman.

Dua tarian lainnya, Tarian Tingeang Urip (Enggang) dan Tarian Manuk Inuq, masing-masing melambangkan kebesaran, perdamaian, dan kemakmuran. Keindahan busana tradisional, iringan musik khas, dan gerak tari yang penuh makna menjadikan pertunjukan ini jauh melebihi sekadar hiburan.

Salah satu tokoh masyarakat adat yang hadir menyatakan bahwa budaya ini adalah identitas yang harus terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, kebudayaan warisan tersebut dapat terus berkembang di tengah gempuran modernisasi yang masif. (ADV/ProkopimKutim/KP)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

PUPR Kutim Usulkan Pembangunan Jembatan Ring Road 2 di RKPD 2026

Next Story

TMMD ke-125 Tuntas Seratus Persen, Warga Suka Rahmat Rasakan Manfaat