SANGATTA – Meskipun banyak wanita yang merasa usia 20-40 tahun adalah waktu yang tepat untuk menikah, Manda (20) berpendapat bahwa menikah bukan soal usia semata. Menurutnya, kesiapan fisik, mental, dan finansial jauh lebih penting, dan saat ini ia memilih untuk fokus mengembangkan kariernya sebelum memikirkan pernikahan.
“Saya pribadi lebih memilih menikah setelah mapan. Menemani laki-laki dari nol itu tidak menjamin dia akan sukses. Bisa saja tetap di nol, dan kalaupun sukses, belum tentu dia tetap memilih saya. Kebanyakan laki-laki, kalau sudah di atas, sering kali tidak bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Mungkin ada yang setia, tapi jarang sekali, bahkan langka, hehe,” ujar Manda.
Manda menambahkan bahwa di usianya yang masih 20 tahun, ia ingin mengejar impian dan membangun karier terlebih dahulu. Ia berharap bisa bertemu dengan pasangan hidupnya di waktu yang tepat, ketika keduanya sudah siap secara fisik, mental, dan finansial.
Menurut BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), usia ideal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun, sedangkan laki-laki 25 tahun. Rekomendasi ini bertujuan untuk menghindari pernikahan dini yang berisiko tinggi, baik dari segi kesehatan maupun stabilitas rumah tangga.
BKKBN juga menyoroti bahwa salah satu penyebab utama perceraian adalah konflik kecil yang berkepanjangan, yang sering kali terjadi akibat kurangnya kesiapan pasangan. Untuk mengantisipasi hal ini, BKKBN meluncurkan aplikasi “Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil” (Elsimil), yang memberikan bimbingan komprehensif, termasuk perencanaan kesehatan reproduksi, minimal tiga bulan sebelum pernikahan.
Keputusan menikah memang sangat personal, tetapi kesiapan dalam berbagai aspek menjadi kunci untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan. (*)