
Kaltim Point, Kutim – Festival Magic Land Kutai Timur 2025 resmi ditutup oleh Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, pada Minggu malam (16/11/25). Acara yang berlangsung sejak 14 November 2025 ini kembali menjadi ruang besar bagi penguatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif masyarakat Kutim.
Penutupan yang digelar di Polder Ilham Maulana tersebut dihadiri para pelaku seni, perangkat daerah, komunitas budaya, serta masyarakat umum yang memadati area pertunjukan.
Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa Festival Magic Land bukan sekadar perayaan, melainkan representasi dari kekayaan daerah yang harus terus digali dan diperkenalkan.
Ia menekankan bahwa makna Magic Land Kutim bukan “Daerah Ajaib” seperti yang sering disalahartikan, tetapi menggambarkan “keajaiban Kutai Timur” yang sesungguhnya.
“Magic Land Kutai Timur itu bukan berarti daerah ajaib, tetapi keajaiban Kutim. Inilah kekayaan budaya, seni, dan sejarah yang harus terus kita tampilkan,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Bupati juga mengapresiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim yang telah menginisiasi penyelenggaraan Magic Land untuk kedua kalinya.
Ia menyebut bahwa festival ini memadukan berbagai unsur kreatif, mulai dari pertunjukan seni, pameran UMKM, literasi, hingga budaya pesisir dan pedalaman.
Semua rangkaian kegiatan itu dinilai berhasil membuka ruang bagi masyarakat untuk menampilkan potensi sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.
Lebih lanjut, Ardiansyah menyoroti kekayaan sejarah Kutum yang menurutnya harus menjadi perhatian serius. Ia menyinggung bahwa jejak sejarah Kerajaan Kutai, kerajaan tertua di Nusantara, juga mengalir hingga wilayah Kutim.
Karena itu, ia kembali meminta Disdikbud untuk terus menggali warisan budaya lokal, termasuk seni tarsul yang kini hampir punah.
Festival Magic Land 2025 ini turut menghadirkan berbagai penampilan yang menjadi daya tarik pengunjung. Salah satunya adalah pertunjukan wayang orang dari Komunitas Panorama, yang diperankan oleh para seniman berusia di atas 40 tahun.
Bupati memberikan apresiasi khusus atas komitmen mereka melestarikan budaya. Menurutnya, apresiasi masyarakat terhadap seni tradisi merupakan kunci agar warisan budaya tidak hilang oleh zaman.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini juga menjadi ruang kolaborasi antara pelaku seni, UMKM, kelompok budaya, dan masyarakat umum.
Kutum tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki berbagai potensi yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat bila dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
Ardiansyah menyampaikan harapannya agar Magic Land dapat berkembang lebih besar pada tahun-tahun mendatang.
Ia menyebut bahwa apabila kesadaran dan partisipasi masyarakat terus meningkat, Festival Magic Land Kutai Timur suatu hari dapat naik kelas menjadi “Wonderland Kutai Timur.”
“Jika kita terus menggali dan memperkaya khasanah budaya, saya yakin Magic Land ke depan akan semakin besar dan membanggakan,” ungkapnya.
Penutupan ini menandai berakhirnya rangkaian kegiatan selama tiga hari yang penuh dengan pertunjukan budaya, kreativitas, dan penghargaan terhadap kekayaan daerah. (ADV)