Kaltim Point, Kutai Timur – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat berbagai langkah strategis untuk menekan angka stunting melalui kampanye dan edukasi kesehatan yang dilakukan secara terencana dan menyeluruh.
Upaya ini menjadi bagian penting dari program Cap Jempol Stop Stunting yang telah digerakkan dan menilai bahwa peningkatan literasi masyarakat terkait kesehatan keluarga merupakan kunci dalam mempercepat penurunan kasus.
Dalam pelaksanaan kampanye, DPPKB Kutim menggencarkan kunjungan lapangan yang menyasar wilayah perkotaan hingga perdesaan yang dinilai efektif karena mampu memberikan edukasi langsung sekaligus mengidentifikasi keluarga berisiko stunting.
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh keluarga mendapatkan informasi yang benar mengenai pola asuh dan gizi anak,” ujar Kepala DPPKB Kutim, Ahmad Junaedi, Jumat (14/11/2025).
Selain kunjungan lapangan, publikasi edukatif dilakukan secara intensif melalui berbagai kanal media serta memaksimalkan konten podcast dan video edukasi di platform YouTube untuk menyasar kelompok muda yang lebih aktif di dunia digital.
Kerja sama dengan TVRI melalui Program Publika turut menjadi ruang komunikasi penting yang menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Beragam materi edukasi disampaikan dalam kampanye tersebut, seperti pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemenuhan gizi seimbang, kesehatan reproduksi, dan peran keluarga dalam menjaga tumbuh kembang anak.
DPPKB juga melibatkan kader dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk memastikan kegiatan kampanye dapat berjalan efektif di tingkat desa.
Para kader diberi pelatihan mengenai metode komunikasi edukatif serta teknik identifikasi dini keluarga berisiko stunting.
Selain strategi lapangan, edukasi melalui kegiatan komunitas juga diperkuat dengan menggelar diskusi kelompok, seminar kecil, dan penyuluhan di berbagai pusat keramaian seperti sekolah, pasar, dan kantor pemerintahan.
Dalam setiap kesempatan, DPPKB menekankan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi memerlukan sinergi seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, dunia usaha, hingga lembaga masyarakat.
Dengan pendekatan terintegrasi dan komunikasi yang diperluas, DPPKB optimistis Kutim dapat mencapai target penurunan stunting secara berkelanjutan.(ADV)