SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Tim Penggerak PKK memilih pendekatan edukasi berjenjang untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Melalui pelatihan kader hingga tingkat Dasawisma, pemerintah berharap kemampuan mendeteksi dan mencegah berbagai persoalan sosial dapat tumbuh dari lingkungan keluarga.
Program tersebut diwujudkan lewat Pelatihan Kader KISAK, KILAS, dan KIAT yang berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutim pada 8–9 April 2026. Peserta berasal dari ketua serta pengurus TP PKK kecamatan yang nantinya akan menjadi penggerak penyebarluasan materi di wilayah masing-masing.
Ketua TP PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, menilai meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual terhadap anak, hingga penyalahgunaan narkotika membutuhkan langkah pencegahan yang dimulai dari keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan ruang pertama untuk membangun kesadaran sekaligus perlindungan bagi setiap anggota.
Ia menjelaskan setiap kader memiliki tanggung jawab melatih pengurus TP PKK desa, kemudian diteruskan kepada kelompok Dasawisma. Skema tersebut diharapkan menciptakan jaringan edukasi yang berkelanjutan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pelatihan itu, peserta mendapatkan materi dari berbagai narasumber lintas sektor. Perwakilan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menjelaskan pentingnya administrasi kependudukan sebagai bentuk perlindungan hak warga, sementara narasumber Pokja I TP PKK membekali peserta dengan strategi perlindungan anak serta pemanfaatan teknologi secara bijak di lingkungan keluarga.
Melalui penguatan kapasitas kader, Pemkab Kutim berharap terbentuk sistem peringatan dini di tingkat keluarga sehingga masyarakat lebih tanggap menghadapi ancaman kekerasan, penyalahgunaan narkoba, maupun persoalan sosial lainnya sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. (ADV/ProkopimKutim/KP)