TELUK PANDAN – Membuka sawah baru dinilai belum cukup untuk membawa Kutai Timur (Kutim) menuju swasembada beras. Pemerintah daerah kini juga menyiapkan penguatan penyerapan hasil panen agar petani memiliki kepastian pasar dan tidak beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian DTPHP Kutim, Bohari, mengatakan salah satu tantangan pengembangan padi adalah pemasaran gabah setelah panen. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah program perluasan areal sawah yang terus berjalan.
“Kadang petani selesai panen, gabahnya belum tersalurkan. Ini yang harus kita kawal bersama agar petani tetap semangat menanam,” kata Bohari.
Saat ini Pemkab Kutim melanjutkan cetak sawah dengan target awal 1.106 hektare. Sekitar 400 hektare telah selesai dikerjakan pada tahun lalu, sementara hampir 600 hektare masuk pekerjaan lanjutan tahun ini.
Proyek tersebut tersebar di Bengalon, Busang, Sandaran, Susuk, Kaubun hingga Kombeng. Sebagian target harus disesuaikan karena masalah perizinan dan kondisi lahan. Setiap lokasi terlebih dahulu menjalani survei investigasi dan desain untuk memastikan kelayakannya.
Pemerintah daerah juga mengusulkan hampir 700 hektare tambahan untuk tahun mendatang. Usulan tersebut telah diverifikasi dan menjadi bagian dari rencana memperluas basis produksi pangan.
Bohari menyebut produktivitas padi Kutim rata-rata mencapai lebih dari 3,5 ton gabah per hektare per musim. Di Kaubun, hasilnya pernah mendekati 6 ton. Potensi itu dinilai mampu bersaing dengan komoditas lain apabila tata niaga diperbaiki.
Persoalannya, petani sawit relatif lebih mudah menjual hasil karena rantai pemasaran telah terbentuk. Sebaliknya, petani padi masih menghadapi keterbatasan penyerapan gabah.
Karena itu, Pemkab Kutim mendorong pembangunan gudang atau fasilitas Bulog. Selain menjaga hasil panen, fasilitas tersebut diharapkan menjadi penyangga harga.
Bohari menilai penguatan pasar harus berjalan bersamaan dengan pencetakan sawah. Dengan begitu, program swasembada tidak berhenti pada bertambahnya luas lahan, tetapi menghasilkan produksi yang benar-benar terserap dan memberi pendapatan bagi petani. (ADV/ProkpimKutim/KP)