SANGATTA — Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur, persoalan kualitas pendidikan kembali menjadi sorotan. Seorang warga Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, mengeluhkan tidak tersedianya buku cetak materi pembelajaran bagi siswa sekolah dasar (SD) di wilayah tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan di Kutai Timur. Pasalnya, untuk mengerjakan tugas sekolah, peserta didik disebut hanya mengandalkan foto bahan ajar yang dikirimkan guru melalui aplikasi WhatsApp.
Situasi tersebut dinilai memprihatinkan, terlebih sekolah yang dikeluhkan berada di wilayah ibu kota Kabupaten Kutai Timur, Sangatta. Di kawasan yang semestinya memiliki akses lebih baik terhadap fasilitas pendidikan, kebutuhan mendasar seperti buku pembelajaran justru masih menjadi persoalan.
“Anak-anak diminta mengerjakan tugas sekolah dengan bermodalkan foto materi yang dikirim melalui WhatsApp,” demikian keluhan warga tersebut.
Kondisi ini bukan sekadar persoalan ada atau tidaknya buku di meja belajar. Ketersediaan bahan ajar cetak berkaitan dengan kemudahan siswa memahami materi, mengulang pelajaran di rumah, serta mengerjakan tugas tanpa harus terus bergantung pada telepon pintar milik orang tua.
Tidak semua keluarga memiliki perangkat yang memadai untuk menunjang pembelajaran digital. Kualitas foto, ukuran tulisan, keterbatasan kuota internet, hingga penggunaan telepon genggam secara bergantian di rumah dapat menjadi hambatan tersendiri bagi siswa sekolah dasar.
Ironi Buku Bergambar Kepala Daerah dan Kebutuhan Buku Pelajaran
Kritik warga semakin mengemuka ketika membandingkan persoalan tersebut dengan kebijakan pencetakan buku tulis yang menampilkan wajah kepala daerah. Di satu sisi, pemerintah dinilai mampu menghadirkan produk cetak dengan identitas pimpinan daerah. Namun, di sisi lain, warga masih mengeluhkan ketersediaan buku cetak berisi materi pembelajaran yang dibutuhkan siswa.
Perbandingan ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang prioritas anggaran dan orientasi program pendidikan daerah.
Buku tulis memang memiliki fungsi tersendiri dalam menunjang kegiatan belajar. Namun, buku tulis tidak dapat menggantikan buku pelajaran yang memuat materi, penjelasan, contoh, dan latihan bagi peserta didik.
Jika pencetakan buku dapat dilakukan untuk kepentingan tertentu, masyarakat tentu berhak mempertanyakan sejauh mana kebutuhan paling mendasar siswa telah dipenuhi. Sebab, keberhasilan pembangunan pendidikan semestinya tidak diukur dari banyaknya program yang terlihat, melainkan dari manfaat nyata yang dirasakan anak-anak di ruang kelas dan di rumah.
Persoalannya bukan semata-mata tentang gambar siapa yang tercetak di sampul buku. Lebih dari itu, ini menyangkut keberpihakan kebijakan: apakah kebutuhan belajar siswa benar-benar ditempatkan sebagai prioritas utama?
HUT Kutim Seharusnya Menjadi Momentum Evaluasi
Peringatan HUT ke-27 Kutai Timur pada 12 Oktober 2026 mengusung tema “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama.” Tema tersebut mengandung pesan bahwa pembangunan harus memperkuat kualitas sumber daya manusia dan memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam sambutan HUT ke-27, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman juga menegaskan bahwa peningkatan kualitas hidup masyarakat harus tercermin melalui pendidikan yang berkualitas. Bahkan, sambutan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pemerintah bukan diukur dari banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan dari sejauh mana masyarakat merasakan pelayanan publik yang semakin baik.
Karena itu, keluhan mengenai ketersediaan buku pelajaran layak menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, khususnya perangkat daerah yang membidangi pendidikan.
Pemerintah perlu memastikan apakah persoalan tersebut terjadi pada satu sekolah atau juga dialami sekolah lain, bagaimana distribusi buku pelajaran selama ini berjalan, serta apakah kebutuhan bahan ajar telah masuk dalam perencanaan dan penganggaran pendidikan.
Dinas Pendidikan Kutai Timur juga perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi tersebut, termasuk langkah konkret untuk memastikan siswa mendapatkan bahan ajar yang layak dan mudah diakses.
Jangan Biarkan Anak Menanggung Kekurangan Sistem
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas generasi masa depan. Karena itu, kebutuhan dasar pembelajaran tidak semestinya dipandang sebagai persoalan kecil yang bisa dibiarkan berlarut-larut.
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran tentu dapat menjadi inovasi. Namun, teknologi seharusnya memperluas akses dan meningkatkan kualitas belajar, bukan menjadi pengganti kebutuhan dasar hanya karena buku cetak tidak tersedia.

Pada usia 27 tahun, Kutai Timur semestinya semakin serius memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti pada angka pertumbuhan, proyek fisik, atau program yang mudah dipromosikan. Pembangunan juga harus hadir dalam bentuk sederhana tetapi menentukan: buku yang bisa dibaca siswa, materi yang bisa dipelajari kembali di rumah, serta kesempatan belajar yang setara bagi setiap anak.
Momentum ulang tahun daerah semestinya bukan hanya menjadi panggung untuk merayakan capaian, tetapi juga ruang untuk mendengar keluhan masyarakat dan mengoreksi kekurangan.
Sebab, ketika seorang siswa sekolah dasar harus mengerjakan tugas hanya bermodalkan foto materi dari WhatsApp, pertanyaan yang perlu dijawab bukan sekadar apakah program pendidikan sudah berjalan, melainkan apakah kebutuhan belajar anak benar-benar telah terpenuhi.
Di usia ke-27 Kutai Timur, jangan sampai buku yang menampilkan wajah kepala daerah lebih mudah ditemukan daripada buku yang membantu anak-anak memahami pelajaran.