Sangatta – Kondisi geografis di Kutai Timur menjadi salah satu persoalan dalam menjalankan roda pembangunan. Tantangan tersebut membuat Pemkab Kutim harus berinovasi untuk mewujudkan visi mempercepat pembangunan infrastruktur digital dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Teknologi jaringan konvensional membutuhkan infrastruktur tambahan, seperti pengadaan jaringan kabel optik atau menara seluler. Selain tidak bisa diadakan secara cepat, pilihan ini juga mahal dan tidak mudah untuk kondisi geografis Kutim.
Pemerintah Kutim melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) berinovasi dengan menggunakan teknologi yang dimiliki Starlink. Teknologi mutakhir yang dimiliki starlink lebih fleksibel, sehingga sesuai dengan tantangan geografis yang ada.
Teknologi Starlink secara resmi masuk ke Indonesia pada tahun 19 Mei 2024. Starlink tidak membutuhkan jaringan kabel optik atau menara seluler, sehingga sangat memudahkan untuk geografis Kutim yang khas.
Menurut Ronny Bonar Hamonangan, kepala Diskominfo Staper, anggaran untuk pengadaan ini sudah diajukan dan rencananya akan selesai diwujudkan di tahun 2024. Tahun ini diprioritaskan pada 191 dari 600 sekolah setara SD-SMP negeri di Kutim.
Jumlah 191 adalah sekolah-sekolah yang berada di wilayah pelosok. “Pemberian internet ini diharapkan dapat membantu sekolah-sekolah negeri di pelosok agar lebih mudah mengakses berbagai kegiatan belajar mengajar,” ungkap Ronny.
Selama ini, sekolah-sekolah yang berada di kawasan pelosok selalu tertinggal dari kawasan dengan akses pengetahuan lebih mudah. Akses internet yang memadai dapat menghilangkan persoalan ini.
Akses terhadap jaringan internet diharapkan akan memudahkan guru dan peserta didik menjangkau informasi dan materi pendidikan yang sesuai dengan kurikulum nasional. Tren pembelajaran daring juga dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah pelosok.