SANGATTA – Upaya pemberdayaan perempuan kepala keluarga (PEKKA) di Kutai Timur mendapatkan dorongan melalui program PEKA yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini fokus pada peningkatan kapasitas perempuan agar mampu berperan aktif dalam pembangunan ekonomi dan sosial di daerah.
Acara dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kutim, Poniso Suryo Renggono, yang menekankan pentingnya perempuan sebagai agen perubahan. “Perempuan bukan sekadar penerima layanan, tetapi subjek yang dapat memimpin perubahan sosial dan ekonomi,” ujar Poniso, seraya mengapresiasi semangat peserta dalam memperkuat solidaritas dan kemampuan berorganisasi.
Ketua panitia, Fahmi Rojano, menyampaikan bahwa meskipun Kalimantan Timur menempati posisi ketiga nasional dalam pertumbuhan ekonomi, kesetaraan gender masih menjadi tantangan yang perlu perhatian serius. PEKA hadir dengan pelatihan praktis agar perempuan kepala keluarga dapat mengakses layanan sosial dan ekonomi, sekaligus berkontribusi meningkatkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) di provinsi ini. “Kunci keberhasilan program ini adalah kolaborasi dengan organisasi perempuan dan masyarakat sipil,” kata Fahmi.
Program ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai organisasi perempuan, termasuk Aisyiyah, GOW, KPPI, Muslimat NU, Salimah NU, WKRI, Dharma Wanita, TP PKK, IWAPI, dan PERLITA. Narasumber Windi Farmawati dari PEKKA Samarinda dan Maghdalena dari Yayasan PEKKA Jakarta berbagi pengalaman serta strategi pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang menegaskan antusiasme peserta untuk membangun jejaring, meningkatkan kapasitas diri, dan berkontribusi dalam pembangunan lokal. Poniso menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membawa keluarga dan masyarakat menuju masa depan yang lebih sejahtera dan setara.
Program PEKA diharapkan menjadi momentum penting dalam menyalakan potensi perempuan kepala keluarga sebagai penggerak perubahan sosial dan ekonomi di Kutai Timur. (ADV/ProkopimKutim/KP)