Samarinda, Sebuah tragedi terjadi di bengkel Kelurahan Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, pada Minggu (24/11/2024). Sebuah konflik emosional antara dua pekerja berujung pada kematian, saat seorang pemuda berinisial H (25) tewas setelah dihantam palu besi 5 kg oleh rekannya.
Belum diketahui pasti apa yang menjadi latar belakang permasalahan tersebut hingga menyebabkan pemuda berinisial H (25) tewas karena dihantam palu.
Dari informasi yang didapatkan dihari itu, H berselisih dengan temannya berinisial KH (16) yang juga pekerja bengkel di tempat yang sama. Pada saat itu situasi memanas hingga akhirnya terjadi aksi kekerasan. Dalam insiden tersebut ditengahi dengan seseorang berinisial R (21), diduga ia ingin melerai pertengkaran tersebut awalnya baik hingga emosi mengambil palu dan menghantamkannya dengan spontan ke arah korban (H). Pukulan benda tumpul tersebut mengenai kepala H, membuatnya jatuh tersungkur dan mengalami luka serius.
Pelaku R saat itu mengatakan “sudah jangan berkelahi” tetapi saya tidak dihiraukan, korban (H) ini masih terus menentang (KH) yang sebelumnya sudah meminta maaf, sampai akhirnya saya emosi, mengambil palu besi diruang bengkel, dan spontan memukul korban dibagian kepala sebelah kiri, ungkapnya.
Warga yang mendengar keributan tersebut pun langsung mendatangi lokasi dan melihat H sudah tergeletak kemudian membawanya ke rumah sakit untuk diberikan pertolongan menggunakan ambulans relawan sekitar.
Rekan-rekan di bengkel dan warga sekitar yang menyaksikan kejadian segera membawa H ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, nyawa H tidak tertolong dan dinyatakan meninggal akibat luka parah di kepala.
Kapolsekta Sungai Pinang, AKP Aksaruddin Adam mengonfirmasi insiden maut tersebut. “Setelah kejadian, kami langsung mengamankan R beserta barang bukti berupa palu yang digunakan dalam penganiayaan,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya mengendalikan emosi dalam menghadapi konflik. Pihak kepolisian mengimbau agar perselisihan diselesaikan dengan dialog dan pendekatan damai.
Pada saat diwawancara R juga punya rasa penyesalan melakukan tindakan tersebut kepada korban, “saya merasa menyesal karena emosi tidak terkontrol jadi saya melakukan hal yang seharusnya saya tidak lakukan,” ucapnya.
Penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk mengetahui kronologi dan penyebab utama pertengkaran. Saat ini R dalam pemeriksaan intensif di Polsekta Sungai Pinang dan kasus ini akan dilimpahkan ke Polresta Samarinda untuk penanganan lebih lanjut.
“Kasus ini menunjukkan bahwa emosi yang tak terkendali dapat berujung pada tragedi. Kami berharap warga lebih bijak dalam menyikapi konflik,” tutup AKP Aksaruddin. (*)