Kaltim Point, Kutim – Sejak dipercaya menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sangatta Selatan pada 1 September 2025, Rusmiati SE menunjukkan keseriusan dalam mendorong arah pembangunan wilayahnya menuju konsep berkelanjutan dan berbasis kawasan. Ia menegaskan bahwa setiap langkah pembangunan di Sangatta Selatan harus selaras dengan kondisi geografis dan lingkungan yang sebagian besar berada di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).
Konsep “pembangunan berkelanjutan dalam kawasan” yang diusung Rusmiati bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari kajian dan diskusi bersama perangkat desa, kelurahan, serta tokoh masyarakat.
Dalam pandangannya, pembangunan di wilayah ini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa karena sebagian besar desa dan dusun berada dalam kawasan konservasi yang memiliki aturan ketat.
“Kami di Sangatta Selatan ini unik. Wilayah kami dalam kawasan taman nasional, jadi pembangunan harus berbasis kawasan dan berkelanjutan agar tidak bertentangan dengan aturan,” jelas Rusmiati, Selasa (25/11/2025).
Rusmiati menuturkan, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga aspek utama di lingkungan, ekonomi, dan sosial. Di sisi lingkungan, ia mendorong agar setiap kegiatan pembangunan memperhatikan daya dukung kawasan TNK.
Sedangkan di sisi ekonomi, ia menginginkan agar masyarakat memiliki peluang usaha yang sejalan dengan pelestarian alam, seperti pengembangan pertanian organik, perikanan ramah lingkungan, dan ekowisata berbasis masyarakat.
Sementara dari sisi sosial, Rusmiati menekankan pentingnya partisipasi aktif warga dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Ia ingin memastikan bahwa program yang berjalan bukan hanya inisiatif pemerintah, tetapi juga hasil musyawarah yang melibatkan semua pihak.
“Kami ingin masyarakat merasa memiliki program itu, karena keberlanjutan hanya bisa terwujud jika warga ikut berperan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, ia terus membangun komunikasi dengan berbagai instansi dan lembaga lintas sektor, termasuk Balai TNK, Dinas PUPR, PLN, dan sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayahnya.
“Pembangunan berkelanjutan bukan berarti berhenti membangun. Justru bagaimana membangun dengan bijak, menyesuaikan kondisi alam, dan memastikan manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang,” tegasnya.
Salah satu program yang tengah dijalankan adalah pemetaan wilayah berbasis data melalui pembenahan profil kecamatan dan profil RT. Upaya ini dilakukan untuk memastikan setiap pembangunan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Ia juga mendorong penguatan sektor UMKM dan pariwisata berbasis agribisnis agar masyarakat di sekitar kawasan taman nasional bisa mandiri secara ekonomi tanpa harus bergantung pada sumber daya hutan. Dengan demikian, keseimbangan antara pelestarian alam dan kesejahteraan warga bisa dicapai secara harmonis.
“Kalau kita bangun dengan kesadaran lingkungan dan kebersamaan, Sangatta Selatan bisa jadi contoh kecamatan yang tumbuh maju tanpa merusak alamnya,” tutup Rusmiati. (ADV)