Kaltim Point, Kutai Timur — Dalam upaya mencegah stunting sejak dini, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur (Kutim) pada tahun 2025 akan memprioritaskan program yang menyasar keluarga PUS 4T, yakni (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu dekat jarak kelahiran).
Kepala Dinas DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, mengatakan bahwa PUS 4T menjadi kelompok yang sering kali luput dari perhatian, padahal dari kelompok inilah banyak risiko stunting berawal.
“Ibu yang melahirkan terlalu muda atau terlalu sering, bahkan di usia yang terlalu tua, rentan mengalami kehamilan berisiko tinggi. Dari situlah potensi stunting muncul,” jelasnya, belum lama ini.
Program akan difokuskan pada edukasi reproduksi sehat, konseling pernikahan, serta layanan keluarga berencana terpadu.
Setiap pasangan akan diberikan pemahaman tentang jarak ideal kehamilan, pola asuh anak, dan pentingnya kesiapan mental dan ekonomi sebelum memiliki keturunan.
DPPKB juga menggandeng sekolah, tokoh agama, dan organisasi masyarakat dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya perencanaan keluarga.
Pendekatan berbasis komunitas dianggap lebih efektif karena pesan datang dari tokoh yang dipercaya masyarakat.
Selain edukasi, pemerintah daerah menyiapkan sistem rujukan cepat untuk kasus risiko tinggi yang membutuhkan intervensi medis.
“Kita ingin semua pasangan memiliki kesadaran bahwa keluarga sehat dimulai dari keputusan yang terencana. Menikah dan punya anak harus disertai kesiapan, bukan sekadar keinginan,” ujar Junaidi.
DPPKB juga akan memanfaatkan platform digital seperti podcast dan media sosial untuk menjangkau generasi muda.
Dengan demikian, pesan tentang PUS 4T dapat tersampaikan secara lebih luas dan modern.
Melalui program berjenjang ini, Kutim diharapkan dapat menekan potensi stunting baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keluarga yang sehat dan berdaya.(ADV)