Kutim Susun Strategi Panjang Lawan Stunting

by
12 Agustus 2026
1 min read

SANGATTA — Penanganan stunting di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, tidak hanya diarahkan kepada anak yang sudah mengalami masalah gizi. Pemerintah daerah juga menyasar remaja melalui Aksi Bergizi sebagai bagian dari strategi memutus risiko stunting sejak sebelum seseorang memasuki fase menjadi orang tua.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim Mitha Ferdina mengatakan edukasi kesehatan kepada remaja, khususnya remaja putri, menjadi investasi jangka panjang. Materinya mencakup konsumsi tablet tambah darah, pola makan seimbang, aktivitas fisik, hingga kesehatan reproduksi.

Menurut Mitha, pendekatan tersebut diperlukan untuk membentuk perilaku sehat sejak usia sekolah. Pemerintah menargetkan prevalensi stunting yang pada 2024 berada di angka 26,9 persen dapat ditekan menjadi 19,38 persen pada 2029.

Target itu disusun bertahap dalam RPJMD Kutim 2025-2029. Pemerintah menargetkan prevalensi turun menjadi 25,35 persen pada 2025, kemudian 23,7 persen pada 2026, 22,16 persen pada 2027, dan 20,72 persen pada 2028 sebelum mencapai sasaran akhir 19,38 persen.

Aksi Bergizi tidak dijalankan sebagai program tunggal. Pemkab Kutim menggabungkannya dengan berbagai intervensi kesehatan dan gizi melalui posyandu serta puskesmas. Pemberian makanan tambahan, imunisasi, pemeriksaan berkala, dan edukasi keluarga menjadi bagian dari rangkaian pencegahan.

Sasaran lainnya mencakup calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pemerintah juga melakukan pendampingan data aksi konvergensi, pra-musyawarah tematik stunting, serta skrining serentak untuk memantau pertumbuhan anak.

Bagi balita yang mengalami masalah gizi, intervensi dilakukan melalui kunjungan rumah, pemeriksaan dokter spesialis, dan pemberian suplemen. Program susu dan makan buah gratis turut disiapkan sebagai upaya memperbaiki asupan gizi.

Untuk mengukur perkembangan, pemerintah menggunakan data e-PPGBM dan SSGI-SKI sebagai bahan evaluasi. Pendekatan lintas sektor ini diharapkan membuat penanganan stunting lebih terarah.

Mitha menegaskan Aksi Bergizi menjadi salah satu simpul penting dalam agenda tersebut. Edukasi yang dimulai sejak remaja diharapkan membentuk generasi yang lebih siap membangun keluarga sehat dan memperkecil risiko stunting pada masa mendatang. (ADV/ProkopimKutim/KP)

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

SKA Jadi Kunci Kutim Benahi Data Komoditas dan Investasi

Next Story

Permintaan Gula Aren Kandolo Tinggi, Produksi Digenjot Sebelum Bidik Pasar Global