SAMARINDA — Rencana menghadirkan Sekolah Rakyat di Kutai Timur (Kutim) mulai diarahkan pada konsep pendidikan terpadu berbasis asrama. Pemerintah daerah menilai keberadaan ruang belajar saja tidak cukup karena sekolah tersebut juga harus mampu menyediakan lingkungan tinggal dan pembinaan yang mendukung perkembangan peserta didik.
Untuk memperdalam konsep tersebut, Pemkab Kutim melakukan audiensi dan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Terintegrasi Palaran, Kota Samarinda, Kamis (20/8/2026). Asisten II Sekretariat Kabupaten Kutim Bidang Perekonomian dan Pembangunan Noviari Noor memimpin rombongan bersama Kepala Dinas Sosial Kutim Ernata Hadi Sujito dan sejumlah perwakilan perangkat daerah.
Noviari mengatakan pemerintah sengaja melihat fasilitas secara langsung agar rancangan Sekolah Rakyat di Kutim dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami tidak ingin hanya membangun gedungnya. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak nantinya bisa belajar dengan nyaman, tinggal dengan baik, dan mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan,” kata Noviari.
Sekolah Rakyat Palaran menjadi salah satu rujukan karena menerapkan kawasan pendidikan yang dilengkapi berbagai fasilitas. Kompleks tersebut memiliki 24 bangunan, mulai dari gedung SD, SMP, SMA hingga asrama siswa dan guru.
Fasilitas lainnya meliputi kantin, masjid, dapur umum, sarana olahraga, serta instalasi pengolahan air limbah. Untuk SD, tersedia 18 ruang kelas dengan kapasitas sekitar 540 siswa.
Dalam kunjungan itu, masing-masing perangkat daerah memetakan kebutuhan sesuai bidangnya. Dinas Pendidikan menelaah ruang pembelajaran dan fasilitas akademik, sedangkan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman melihat kebutuhan kawasan serta infrastruktur pendukung.
Dari sisi sosial, Ernata menilai karakter Sekolah Rakyat membutuhkan persiapan khusus karena peserta didik akan memperoleh pendidikan sekaligus tinggal dalam lingkungan asrama.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami. Kami ingin melihat secara langsung bagaimana fasilitasnya, bagaimana pengelolaannya, dan apa saja yang perlu dipersiapkan,” ujarnya.
Selanjutnya, Pemkab Kutim akan menghimpun hasil kunjungan sebagai bahan penyusunan rencana. Kajian mencakup lahan, kapasitas peserta didik, bangunan, asrama, fasilitas pendidikan, dan infrastruktur.
Noviari berharap konsep yang diterapkan nantinya tidak sekadar meniru Samarinda, tetapi disesuaikan dengan kondisi Kutim agar mampu memperkuat pendidikan sekaligus membentuk kemandirian dan karakter anak. (ADV/ProkopimKutim/KP)