SAMARINDA – Keselamatan di jalan raya masih menjadi persoalan serius, terutama bagi generasi muda yang mendominasi pengguna sepeda motor. Di tengah tingginya risiko kecelakaan, seorang pelajar dari Kutai Timur menawarkan pendekatan berbeda: membangun kesadaran sekaligus mencegah pelanggaran dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Gagasan itu datang dari Zahra, siswa SMA Negeri 1 Sangatta Utara. Lewat dua inovasi bertajuk SAFEBRO dan SIGMA AI, ia meraih Juara 3 Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan LLAJ tingkat Kalimantan Timur 2026 yang digelar di Hotel Five Samarinda.
Zahra bersaing dengan 27 peserta dari tujuh kabupaten dan kota. Atas pencapaiannya, ia memperoleh piagam penghargaan dan uang pembinaan.
SAFEBRO, singkatan dari Smart Awareness for Ethical Behaviour on Roads, dirancang untuk mengubah edukasi keselamatan menjadi lebih interaktif. Platform tersebut menggabungkan materi lalu lintas, pembentukan etika, gamifikasi melalui Safe Challenge, serta fitur Safe Report untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi jalan.
Sementara SIGMA AI atau Smart Integrated Guardian for Motorcycle Access menawarkan konsep pencegahan. Sistem tersebut dirancang mendeteksi penggunaan helm berstandar SNI menggunakan teknologi AI sebelum kendaraan dapat dioperasikan.
“Saya berharap ini tidak hanya berhenti sebagai aplikasi atau karya tulis. Saya ingin SAFEBRO dan SIGMA AI bisa diuji dan dikembangkan bersama Dinas Perhubungan,” kata Zahra.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kutim Masrianto Suriansyah menilai inovasi tersebut relevan dengan perkembangan transportasi di era digital. Ia mengapresiasi keberhasilan Zahra membawa Kutim masuk jajaran tiga besar.
Gagasan keselamatan itu juga menjadi relevan dengan kondisi Kaltim. Data Ditlantas Polda Kaltim menunjukkan 102 orang meninggal dunia dalam 309 kecelakaan lalu lintas sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kecelakaan didominasi kendaraan roda dua dengan korban banyak berasal dari kelompok usia 15–29 tahun.
Bagi Zahra, teknologi bukan sekadar simbol kemajuan. Teknologi, menurutnya, harus dapat membantu pengguna jalan mengambil keputusan yang lebih aman dan bertanggung jawab. (ADV/ProkopimKutim/KP)