YOGYAKARTA — Bagi para guru peserta Beasiswa Indonesia Emas asal Kutai Timur (Kutim), menyelesaikan pendidikan magister bukan perkara meninggalkan ruang kelas. Mereka mengikuti perkuliahan sembari tetap menjalankan tugas mengajar melalui skema pembelajaran daring dan luring yang disesuaikan dengan jam kerja.
Pengalaman itu dirasakan Megawati, guru SDN 002 Sangatta Utara, yang menjadi salah satu wisudawati Magister Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia mengikuti wisuda di GOR UNY, Sabtu (22/8/2026).
Megawati mengatakan kuliah secara daring melalui Zoom menjadi solusi bagi peserta yang masih aktif bekerja. Jadwal pembelajaran biasanya dilaksanakan setelah kegiatan di sekolah selesai.
“Alhamdulillah itu sangat membantu karena disesuaikan dengan kondisi kami yang sambil bekerja,” ujar Megawati.
Selama menjalani studi, ia mengaku memperoleh banyak wawasan baru, khususnya mengenai pendidikan inklusif. Pengetahuan tersebut dinilai penting untuk mendukung guru dalam memahami kebutuhan peserta didik yang beragam.
Ia juga mengapresiasi dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim serta Universitas Negeri Yogyakarta. Menurut Megawati, dosen tetap memberikan pendampingan meski proses belajar berlangsung dari jarak jauh.
Wisudawan lain, Ahmad Mudori dari SDN 011 Sangatta Selatan, menyebut kesempatan tersebut sebagai pengalaman yang sangat bermanfaat. Ia berharap pengetahuan dari UNY dapat diterapkan dalam pelayanan pendidikan di Kutim.
Pendamping Disdikbud Kutim, Paulus Ven Logo, mengatakan program RPL tersebut diikuti 300 peserta. Mereka menjalani proses akademik selama sekitar satu tahun, sejak awal Agustus hingga wisuda.
Menurut Paulus, konsistensi peserta mengikuti perkuliahan di tengah pekerjaan menjadi salah satu gambaran kuatnya komitmen para guru.
Program Beasiswa Indonesia Emas itu diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan berpendidikan magister, tetapi juga memperkuat kualitas layanan pendidikan inklusif di Kutim. (ADV/ProkopimKutim/KP)