SANGATTA — Kekhawatiran terhadap tuberkulosis (TBC) tak boleh membuat masyarakat menghindari pemeriksaan. Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutai Timur (Kutim) Siti Robiah Ardiansyah meminta warga memanfaatkan layanan skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini.
Imbauan itu disampaikan saat PPTI Kutim bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar pelacakan TBC sekaligus layanan kesehatan gratis di RT 35 Gang Dayung, Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, Senin (17/8/2026).
Siti mengatakan warga tidak perlu ragu mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala atau memiliki risiko terpapar TBC. Menurutnya, warga yang terindikasi maupun dinyatakan positif akan mendapat pendampingan hingga pengobatan tanpa dipungut biaya.
“Jangan ragu datang ke fasilitas kesehatan atau pusat pelayanan terdekat untuk mendeteksi gejala lebih awal,” ujar Siti.
Layanan tersebut dirancang agar pemeriksaan dapat dilakukan secara mudah. Warga menjalani tahapan pendaftaran dan skrining awal sebelum diarahkan untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk rontgen dada. Bagi balita, petugas menyediakan uji tuberkulin atau Mantoux, selain pemeriksaan dahak BTA sesuai indikasi.
Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan program pelacakan ini diperkuat karena TBC masih memiliki potensi penularan tinggi. Kutim memperoleh 118 lokus skrining dari Kementerian Kesehatan, dengan sasaran minimal 100 orang di setiap lokasi.
Ia menyebut deteksi cepat menjadi kunci agar penderita segera mendapatkan terapi. Pengobatan TBC umumnya berlangsung enam bulan dan bisa diperpanjang dua bulan sesuai kondisi pasien.
Yuwana menegaskan TBC bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan pengobatan rutin dan tidak terputus, pasien memiliki peluang sembuh.
Skrining massal ini menjadi salah satu langkah Pemkab Kutim mengejar target eliminasi TBC pada 2030, sekaligus memperkuat upaya pencegahan penularan di tingkat masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/KP)