Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Sandaran Soroti Bahaya TBC

by
9 November 2025
474 views

SANDARAN – Penyuluhan mengenai penyakit Tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu bagian kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang berlangsung di halaman Kantor Camat Sandaran. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memberikan penyuluhan mengenai bahaya TBC, pencegahan, dan pengobatan yang tepat.

Siti Robiah Ardiansyah, Ketua PPTI Kutim, mengingatkan warga untuk menjaga pola hidup sehat supaya mencegah penyakit, khususnya TBC. Kader sehat dan masyarakat diimbau untuk disiplin mendampingi pengobatan penderita TBC supaya tidak putus dalam pengobatannya. Harapannya, dengan hidup sehat dan menyembuhkan penderita maka akan memutus rantai penyakit TBC.

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia menduduki peringkat dua penderita TBC dunia. Oleh karena itu, menjadi program nasional untuk memutus rantai penyakit TBC. Siti Robiah pun menyampaikan apresiasi kepada para kader PPTI, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dan masyarakat atas partisipasi aktif dalam kegiatan ini.

“Terima kasih kepada teman-teman PPTI dan Dinkes yang sudah hadir. Mari bergandengan tangan untuk mengawal pengobatan TBC agar bisa benar-benar hilang. Target nasional tahun 2030 Indonesia bebas TBC, dan saya berharap Kutim bisa lebih cepat dari itu,” harapnya.
Sementara itu, Sekretaris PPTI Kutim dr. Muhammad Yusuf menyampaikan materi tentang ciri-ciri dan bahaya penyakit TBC. Menurutnya, tanda-tanda terkena TBC adalah batuk lebih dari tiga minggu, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, dan sering demam. Bagi warga yang mengalami gejala tersebut, harus segera memeriksakan diri ke dokter.
Ia menambahkan, segera lakukan pemeriksaan lanjutan dengan pemeriksaan mikroskopis di fasilitas kesehatan, karena satu orang pengidap TBC bisa menularkan 15 sampai 20 orang di sekitarnya.

Sementara mereka yang menderita TBC harus tuntas dalam menjalani pengobatan. Ia mengingatkan bahwa banyak penderita yang berhenti minum obat di tengah jalan, yang dapat menyebabkan resistensi obat.

“Kalau tidak tuntas, penyakitnya akan lebih sulit diobati. Jadi, harus patuh minum obat setiap hari sesuai anjuran dokter,” tegasnya. (ADV/ProkopimKutim/KP)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Previous Story

Bupati Ardiansyah Dorong Aksesibilitas untuk Dukung Investasi Baru

Next Story

Pemkab Kutim Komitmen Pemerataan Listrik hingga Desa Terpencil