SANGATTA — Sebanyak 542 keluarga di Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), masuk kategori berisiko stunting. Kondisi itu mendorong pemerintah setempat memperkuat intervensi melalui Rumah Rehab Gizi Stunting yang tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga melibatkan tenaga kesehatan dan pendamping keluarga.
Camat Sangatta Utara Hasdiah mengatakan keberadaan rumah rehabilitasi tersebut berangkat dari kebutuhan memberikan penanganan yang lebih menyeluruh kepada anak. Menurutnya, perbaikan asupan makanan harus dibarengi edukasi kepada orang tua.
“Bukan hanya diberi makanan, tetapi kita lihat juga gizinya, pertumbuhannya dan bagaimana pendampingan kepada orang tuanya,” ujar Hasdiah.
Program tersebut mendapat perhatian Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat mengunjungi Rumah Rehab Gizi Stunting, Selasa (18/8/2026). Ia menyebut fasilitas itu sebagai pilot project yang dapat dikembangkan jika menunjukkan hasil efektif.
Satu siklus program ditargetkan melayani sekitar 20 anak. Dengan lima siklus dalam setahun, kapasitasnya dapat mencapai sekitar 100 anak. Mahyunadi mengatakan jumlah peserta masih mungkin ditambah, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan tenaga pendamping.
Yang membedakan program ini, petugas aktif mendatangi keluarga sasaran. Anak yang tidak dibawa orang tua ke lokasi dapat dijemput oleh tim kecamatan agar intervensi tidak terhenti.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pendekatan tersebut sejalan dengan target nasional menurunkan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029.
Penanganan melibatkan dokter spesialis tumbuh kembang, dokter spesialis gizi klinik, dan psikolog. Anak dipantau dari aspek pertumbuhan, kondisi gizi hingga perkembangan psikologis.
Program membutuhkan sekitar Rp1,8 miliar, sementara APBD yang tersedia Rp800 juta. Dukungan KPC sekitar Rp150 juta turut memperkuat operasional. Mahyunadi mengatakan kolaborasi lintas pihak akan terus dioptimalkan agar jangkauan layanan meningkat. (ADV/ProkopimKutim/KP)