SANGATTA — Pengurus baru Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kutai Timur (Kutim) resmi dikukuhkan untuk periode 2026-2031. Organisasi yang menaungi pelaku usaha hotel dan restoran itu diharapkan lebih aktif merespons pertumbuhan sektor jasa di Kalimantan Timur, terutama di tengah perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pengukuhan berlangsung bersamaan dengan Musyawarah Cabang (Muscab) PHRI Kutim di Lounge Hotel Royal Victoria Sangatta. Kepala Dinas Pariwisata Kutim Mahriadi mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman membuka kegiatan tersebut dengan pemukulan gong.
Ketua BPC PHRI Kutim yang baru, Cing Cing Wahyuni, didukung untuk membawa organisasi lebih solid serta adaptif terhadap perubahan industri hospitality. Ketua BPD PHRI Kaltim Sahmal Ruhib menyebut pengalaman Cing Cing di bidang perhotelan menjadi salah satu kekuatan dalam menjalankan kepengurusan.
“PHRI bukan hanya organisasi hotel dan restoran, tetapi motor penggerak pariwisata yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memajukan sektor ini,” ujar Sahmal.
Ia mengatakan keberadaan IKN membuka peluang bagi pertumbuhan bisnis akomodasi, kuliner, dan jasa pendukung lainnya. Namun peluang tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola organisasi yang profesional.
Mahriadi menambahkan, pemerintah daerah membutuhkan keterlibatan pelaku usaha untuk mengoptimalkan potensi Kutim. Menurutnya, kekayaan budaya, sumber daya alam, dan peluang investasi dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata maupun bisnis.
Ia juga meminta pelaku hospitality meningkatkan standar pelayanan serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas promosi.
Sebelumnya, pembentukan kepengurusan PHRI Kutim diawali sejumlah pertemuan internal sejak April 2026. Panitia kemudian membentuk Organizing Committee dan Steering Committee untuk mempersiapkan proses pemilihan ketua.
Ketua panitia, Dharma Rismawan, berharap kepengurusan baru dapat menghidupkan kembali organisasi secara lebih progresif. PHRI Kutim ditargetkan mampu membangun kerja sama dengan pemerintah, perusahaan, dan pelaku pariwisata guna memperkuat ekosistem ekonomi daerah.
Forum tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, organisasi pariwisata, serta pelaku usaha hotel dan restoran. Sinergi lintas sektor menjadi salah satu kunci agar pertumbuhan hospitality turut memberi dampak terhadap tenaga kerja dan UMKM lokal. (ADV/ProkopimKutim/KP)